Senin, 29 Oktober 2012


SANDAL POLITIK
Oleh : Gias Aditya Sumarno



Sandal adalah alas kaki yang mungkin sudah dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga mengenakan sandal. Sandal jepit di Amerika Serikat disebut flip-flops, thongs, atau beach sandal. Seusai Perang Dunia II, prajurit Amerika Serikat pulang ke AS dengan membawa oleh-oleh sandal dari Jepang. Semasa perang, prajurit Jepang juga membuat sandal dari ban bekas. Di lihat dari filosofinya Sandal  Jepit itu apapun mereknya, semahal apapun harganya, ia tetaplah sandal jepit. Tempatnya DI BAWAH. Diinjak. Posisinya sangat tidak menguntungkan, padahal sandal jepit itu fungsinya LUAR BIASA. Ia berperan MELINDUNGI dan MENYELAMATKAN pemiliknya dari musibah yang tidak dapat diprediksi. Kena kerikil, terkena paku payung, terlindung dari kotoran baik debu maupun kotoran yang berasal dari sisa pembuangan zat hewan dan manusia dan lain-lain. (Ary Sulistyo; 2010).
 Bagaimanapun sebuah merek terkenal untuk sandal, setebal apapun, terbuat dari apapun, dan semahal apapun sudah barang tentu memiliki fungsi yang berkedudukan berada dibawah. Sering kali kita hanya menyepelekan suatu objek dengan pandangan visual saja tidak beserta fungsinya. Bisa dibayangkan jika didunia yang kita pijak ini tidak adanya sandal sepasangpun dan apa yang terjadi? Mungkin sudah terbanyang dibenak kita apa yang terjadi pada kaki kita, kotor, kaki yang “burik”(kasar), permukaan pada kaki tidak teratur, dan masih banyak lagi.
Sandal bisa kita analogikan sebagai citizenry (rakyat, masyarakat). Menurut Robert Maciver, Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan “society means a system of ordered relations”. Artinya, masyarakat suatu sistem hubungan  memerintahkan dalam hubungan internal maupun eksternal. Dalam suatu negara masyarakat memiliki peran sentral untuk membimbing dari negara berkembang menjadi negara maju. Namun, jika dianalogikan masyarakat kita sebagai Sandal yang mempunyai filosofi apapun mereknya, semahal apapun harganya dan terbuat dari apapun bentuknya tetaplah mempunyai kedudukan didasar terbawah dari struktur tubuh manusia yaitu sebagai pelindung kaki. Dari mana asalnya, seganteng dan secantik apa rupanya dan setinggi apa strata dalam keluarganya itupun sama diperlakukannya sebagai alas untuk para pemangku kursi yang haus akan jabatanya. Dewasa ini, masyarakat sudah dipandang rendah oleh kaum elitisi terutama para elitisi partai politik yang telah mengangkat derajat sebuah partai politik itu sendiri. Sebelum menjabat banyak terdengar ditelinga kita para elitisi mengobral janji-janji kosong kepada rakyatnya dan alhasil rakyatpun terhanyut dalam buaian bualan kandidat dalam tunggangan salah satu partai. Setelah menjabat posisi yang dianggap sucinya dalam dunia politik para pemangku seolah-olah auto-amnesia kepada khalayak rakyat regional dan nasional yang telah memusatkan hak pilihnya kepada kaula elite yang dipercaya untuk mengemban suatu amanah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Skenario dalam politik siap di Implementasikan kepada rakyat. Kepercayaan masyarakat kini telah diobok-obok oleh pemilik jabatan, kaum kapitalis turut andil dalam skenario yang telah dirancang dan telah mendapat konsensus dari atasannya. Akhirnya rakyat juga yang menderita menjalani mobilisasi politik rendahan dibumi pertiwi ini.

Personifikasi Sandal
            Reformasi fungsionalitas harus dijiwai oleh pelaksana-pelaksana kebijakan nasional sehingga tidak menimbulkan kesan salah arah bahkan hilang arah untuk menjalankan sebuah amanah suci yang diberikan rakyatnya. Maka yang besar jangan mau menang sendiri, yang kecil harus tau diri. Kalau sudah berfikiran seperti ini akan timbul korelasi saling menghargai, saling menghormati, saling membutuhkan, dan saling berinisiatif untuk menolong sesamanya. Rukun antara masyarakat dan pemerintah, pemerintah yang legitimasi yang dihasilkan lewat proses demokrasi benarnya kita dukung salahnya kita tegur, kita kritik, kita perbaiki, dan kita beri saran-saran yang baik.(alm. KH. Zainuddin Mz.). beliau juga sering mempopulerkan masyarakat kita, umat islam dan pemerintah ibaratkan lima jari kita kalau kompak apa yang tidak terpegang? Tapi kalau terpecah belah apa yang mau di pegang? Ibu jari ini ibaratkan ummaroh (pemerintah) para legalitas , telunjuk kaum elitisi orang kaya pengusaha investor kita perlu untuk memulihkan roda perekonomian, jari tengah pemilik semua golongan yaitu, TNI cendekiawan dan ulama, jari manis adalah pemuda-pemudi semua harapan ada dipemuda-pemudi, dan kelingking adalah kaum wanita. Tidak hanya itu didalam buku karangan Michael Rush Phillip Althoff tentang “Pengantar Sosiologi Politik”, menuangkan arti penting untuk mempersatukan perpolitikan yang dinilai sudah carut-marut dalam pelaksanaannya. Dengan cara apa? Yaitu Komunikasi politik, karena merupakan proses yang berkesinambungan, melibatkan pula pertukaran informasi diantara individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkat masyarakat. Lagi pula tidak hanya mencakup penampilan pandangan-pandangan serta harapan-harapan para anggota masyarakat, tetapi juga merupakan sarana anjuran-anjuran pejabat yang berkuasa diteruskan kepada anggota-anggota masyarakat; selanjutnya juga melibatkan reaksi-reaksi anggota masyarakat terhadap pandangan-pandangan dan janji serta saran-saran para penguasa. Maka komunikasi politik itu memainkan peranan yang penting sekali di dalam sistem politik di negara kita ini yaitu Indonesia. Komunikasi politik ini menentukan elemen dinamis, dan menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi politik, dan pengrekrutan politik. (Michael Rush Phillip Althoff ; 2011).



Riwayat penulis:
Oleh : Gias Aditya Sumarno, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) S1. Aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat FPIPS. Berdomisili alamat Dusun 05 RT/RW 001/010 Kel/Desa Babakan Gebang Kec. Babakan Kab. Cirebon. Alamat sementara Jl. Sersan Badjuri Dalam No.15 RT/RW 01/05 Kab. Bandung. Alamat email:Giasaditya@yahoo.co.id. Hp (087829503775).

DUA

Pertama adanya sebuah insan yang hidup,
Insan yang sempurna, insan yang terbaik yang
Di ciptakakan melebihi dari insan-insan lainnya.
Kehidupan dan kematian adalah ritual hidup.
Kebenaran dan kebohongan adalah bumbu dari Kehidupan.
Kebahagian dan kesengsaraan
Adalah nasib dan tujuan hidup.
Kebaikan dan kejahatan adalah prilaku prilaku Kehidupan.
Amanah dan penghianatan
Adalah kepercayaan keidupan.
Bersih dan Kotor adalah cermin kehidupan.
Langit dan bumi adalah semua tempat
dari kolaborasi yang mempunyai dua arti
yang saling bertolak belaka.




Creation by :
GIAS ADITYA S.