SANDAL POLITIK
Oleh : Gias Aditya Sumarno
Sandal adalah alas kaki yang mungkin sudah
dikenal manusia sejak zaman Mesir Kuno. Di zaman kuno, orang India, Assyria, Romawi, Yunani, dan Jepang juga mengenakan sandal. Sandal jepit di Amerika
Serikat disebut flip-flops, thongs, atau beach sandal. Seusai Perang
Dunia II, prajurit Amerika Serikat pulang ke AS dengan membawa oleh-oleh sandal
dari Jepang. Semasa perang, prajurit Jepang juga membuat sandal dari ban bekas.
Di lihat dari filosofinya Sandal Jepit
itu apapun mereknya, semahal apapun harganya, ia tetaplah sandal jepit.
Tempatnya DI BAWAH. Diinjak. Posisinya sangat tidak menguntungkan, padahal
sandal jepit itu fungsinya LUAR BIASA. Ia berperan MELINDUNGI dan MENYELAMATKAN
pemiliknya dari musibah yang tidak dapat diprediksi. Kena kerikil, terkena paku
payung, terlindung dari kotoran baik debu maupun kotoran yang berasal dari sisa
pembuangan zat hewan dan manusia dan lain-lain. (Ary Sulistyo; 2010).
Bagaimanapun
sebuah merek terkenal untuk sandal, setebal apapun, terbuat dari apapun, dan
semahal apapun sudah barang tentu memiliki fungsi yang berkedudukan berada
dibawah. Sering kali kita hanya menyepelekan suatu objek dengan pandangan visual saja tidak beserta fungsinya.
Bisa dibayangkan jika didunia yang kita pijak ini tidak adanya sandal
sepasangpun dan apa yang terjadi? Mungkin sudah terbanyang dibenak kita apa
yang terjadi pada kaki kita, kotor, kaki yang “burik”(kasar), permukaan pada kaki tidak teratur, dan masih banyak
lagi.
Sandal bisa kita analogikan sebagai citizenry (rakyat, masyarakat). Menurut
Robert Maciver, Masyarakat adalah suatu sistim hubungan-hubungan yang ditertibkan
“society means a system of ordered
relations”. Artinya, masyarakat suatu sistem hubungan memerintahkan dalam hubungan internal maupun eksternal. Dalam suatu negara masyarakat memiliki peran sentral
untuk membimbing dari negara berkembang menjadi negara maju. Namun, jika
dianalogikan masyarakat kita sebagai Sandal yang mempunyai filosofi apapun
mereknya, semahal apapun harganya dan terbuat dari apapun bentuknya tetaplah
mempunyai kedudukan didasar terbawah dari struktur tubuh manusia yaitu sebagai
pelindung kaki. Dari mana asalnya, seganteng dan secantik apa rupanya dan
setinggi apa strata dalam keluarganya itupun sama diperlakukannya sebagai alas
untuk para pemangku kursi yang haus akan jabatanya. Dewasa ini, masyarakat
sudah dipandang rendah oleh kaum elitisi terutama para elitisi partai politik
yang telah mengangkat derajat sebuah partai politik itu sendiri. Sebelum
menjabat banyak terdengar ditelinga kita para elitisi mengobral janji-janji
kosong kepada rakyatnya dan alhasil rakyatpun terhanyut dalam buaian bualan
kandidat dalam tunggangan salah satu partai. Setelah menjabat posisi yang
dianggap sucinya dalam dunia politik para pemangku seolah-olah auto-amnesia kepada khalayak rakyat
regional dan nasional yang telah memusatkan hak pilihnya kepada kaula elite
yang dipercaya untuk mengemban suatu amanah dari rakyat oleh rakyat dan untuk
rakyat. Skenario dalam politik siap di Implementasikan kepada rakyat. Kepercayaan
masyarakat kini telah diobok-obok oleh pemilik jabatan, kaum kapitalis turut
andil dalam skenario yang telah dirancang dan telah mendapat konsensus dari atasannya. Akhirnya
rakyat juga yang menderita menjalani mobilisasi politik rendahan dibumi pertiwi
ini.
Personifikasi
Sandal
Reformasi
fungsionalitas harus dijiwai oleh pelaksana-pelaksana kebijakan nasional
sehingga tidak menimbulkan kesan salah arah bahkan hilang arah untuk
menjalankan sebuah amanah suci yang diberikan rakyatnya. Maka yang besar jangan
mau menang sendiri, yang kecil harus tau diri. Kalau sudah berfikiran seperti ini
akan timbul korelasi saling menghargai, saling menghormati, saling membutuhkan,
dan saling berinisiatif untuk menolong sesamanya. Rukun antara masyarakat dan
pemerintah, pemerintah yang legitimasi yang dihasilkan lewat proses demokrasi
benarnya kita dukung salahnya kita tegur, kita kritik, kita perbaiki, dan kita
beri saran-saran yang baik.(alm. KH. Zainuddin Mz.). beliau juga sering
mempopulerkan masyarakat kita, umat islam dan pemerintah ibaratkan lima jari
kita kalau kompak apa yang tidak terpegang? Tapi kalau terpecah belah apa yang
mau di pegang? Ibu jari ini ibaratkan ummaroh
(pemerintah) para legalitas , telunjuk kaum elitisi orang kaya pengusaha
investor kita perlu untuk memulihkan roda perekonomian, jari tengah pemilik
semua golongan yaitu, TNI cendekiawan dan ulama, jari manis adalah
pemuda-pemudi semua harapan ada dipemuda-pemudi, dan kelingking adalah kaum
wanita. Tidak hanya itu didalam buku karangan Michael Rush Phillip Althoff
tentang “Pengantar Sosiologi Politik”, menuangkan arti penting untuk
mempersatukan perpolitikan yang dinilai sudah carut-marut dalam pelaksanaannya.
Dengan cara apa? Yaitu Komunikasi politik, karena merupakan proses yang
berkesinambungan, melibatkan pula pertukaran informasi diantara
individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada semua tingkat masyarakat.
Lagi pula tidak hanya mencakup penampilan pandangan-pandangan serta
harapan-harapan para anggota masyarakat, tetapi juga merupakan sarana
anjuran-anjuran pejabat yang berkuasa diteruskan kepada anggota-anggota masyarakat;
selanjutnya juga melibatkan reaksi-reaksi anggota masyarakat terhadap
pandangan-pandangan dan janji serta saran-saran para penguasa. Maka komunikasi
politik itu memainkan peranan yang penting sekali di dalam sistem politik di
negara kita ini yaitu Indonesia. Komunikasi politik ini menentukan elemen
dinamis, dan menjadi bagian menentukan dari sosialisasi politik, partisipasi
politik, dan pengrekrutan politik. (Michael Rush Phillip Althoff ; 2011).
Riwayat penulis:
Oleh : Gias Aditya Sumarno, Mahasiswa Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
(FPIPS), Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) S1. Aktif dalam organisasi
Himpunan Mahasiswa Civics Hukum (HMCH) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
komisariat FPIPS. Berdomisili alamat Dusun 05 RT/RW 001/010 Kel/Desa Babakan
Gebang Kec. Babakan Kab. Cirebon. Alamat sementara Jl. Sersan Badjuri Dalam
No.15 RT/RW 01/05 Kab. Bandung. Alamat email:Giasaditya@yahoo.co.id. Hp
(087829503775).
